MUSIM HUJAN, PENGELOLA TEMPAT WISATA LAMPUNG SELATAN DIMINTA UNTUK MEMANTAU KONDISI CUACA DARI BMKG

lampungviral.id, Lampung Selatan – Memasuki musim penghujan, Disparbud Lampung Selatan mengingatkan kepada pengelola tempat wisata untuk memantau kondisi cuaca dari BMKG ataupun lainnya.

Apalagi, saat ini Gunung Anak Krakatau yang berada dekat dengan pesisir Lampung Selatan sering erupsi.

Padahal beberapa hari lagi, akan memasuki libur panjang Hari Raya Natal dan Tahun Baru atau Nataru yang dibarengi libur anak sekolah.

Biasanya, di momen-momen tersebut pengunjung atau wisatawan akan memadati tempat wisata yang ada di Lampung Selatan.

Kepala Disparbud Lampung Selatan M Darmawan mengimbau pengelola tempat wisata untuk memantau kondisi cuaca tersebut.

Ia juga menyarankan kepada pengelola tempat wisata untuk selalu berkoordinasi dengan instansi terkait jika terjadi sesuatu hal di tempat wisatanya.

“Ya kalau bisa diupdate terus kondisi cuacanya. Karena saat ini kan udah masuk musim penghujan, dimana akan banyak hujan yang mungkin akan menimbulkan gelombang tinggi. Apalagi ditambah saat ini GAK masih aktif mengeluarkan erupsi,” kata Darmawan, Kamis (7/12/2023).

“Selain itu, kalau ada apa-apa segera hubungi Damkar, Basarnas, instansi terkait agara segera dapat pertolongan,” sambungnya.

Ia pun berharap tempat wisata memiliki sarana dan prasarana penunjang keselamatan.

“Setiap tempat wisata seperti pantai harus ada penjaga pantai (life guard) dalam bentuk keterampilan khusus. Keberadaan petugas itu untuk pertolongan kecelakaan yang terjadi di air atau pantai,” urainya.

Ia menyebut pihaknya telah melakukan pelatihan penjaga pantai untuk penunjang keselamatan.

“Beberapakali kita telah lakukan kegiatan pelatihan penjaga pantai, maksud dan tujuan dari diadakannya pelatihan itu untuk memberikan pemahaman dalam pencegahan dan pemberian pertolongan pertama secara manual/tanpa menggunakan peralatan pada korban kecelakaan di wisata tirta, seperti misalnya tenggelam,” jelasnya.

Lebih lanjut Darmawan mengatakan materi penyelamatan itu terbagi menjadi dua, yakni pertolongan pertama atau Madical Firs Responder (MFR) dan Pertolongan di permukaan air atau Water Rescue (WR).

“Ketika mendapati korban tenggelam, pertolongan yang diberikan ada dua macam, yaitu water rescueatau pertolongan di permukaan air, selanjutnya medical first responden (MFR), yaitu pertolongan pertama di darat yang mengupayakan supaya korban yang pingsan dapat sadar kembali serta mengeluarkan air jika ia banyak meminum air selama tenggelam,” ujarnya.

Darmawan mengatakan peserta tidak hanya diberikan teori tentang water rescue dan MFR, tetapi juga diadakan simulasi, dan setiap peserta dengan didampingi oleh instruktur mempraktekkannya secara langsung.

Dengan demikian, Darmawan berharap, setiap peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama pada korban tenggelam dan juga pingsan di wisata tirta yang mereka kelola.

Melalui pelatihan ini, pihaknya mengimbau agar setiap pengelola wisata tirta mempunyai dan menyiapkan perlengkapan standar dalam pencegahan supaya tidak terjadi korban tenggelam.

Seperti misalnya memasang rambu larangan dan batas aman berenang.

Menyiapkan sumber daya manusia yang bertugas secara khusus sebagai life guard dengan dilengkapi atribut standar (kostum life guard, sempritan, toa).

Menyiapkan pos pantau, dan menjalin kerjasama dengan pihak keamanan serta tenaga kesehatan.

artikel ini telah terbit di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *