WAKTU MUSTAJAB DI HARI JUM’AT UNTUK BERDOA MENURUT SYEKH ALI JABER DAN PARA ULAMA

lampungviral.id, Religi – Dalam Islam, salat Jumat mempunyai keistimewaan dan keberkahan tersendiri.

Sholat Jum’at merupakan sholat wajib pada hari Jum’at dan bukan merupakan sholat dzuhur seperti yang dipahami sebagian orang.

Umat ​​Islam mukallaf tidak diperkenankan meninggalkan salat Jumat tanpa alasan yang syar’i.

Hukum menunaikan shalat Jumat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang sudah dewasa berakal sehat, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui,” (Al Jumu’ah 62:9).

Syekh Ali Jaber menyebutkan ada satu jam di hari jumat, barang siapa yang berdoa pada waktu itu doanya tidak akan ditolak.

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari 935, Muslim 2006, Ahmad 10574 dan yang lainnya).

Ali Jaber menyebutkan berdasarkan pendapat mayoritas ulama doa yang paling diijabah itu adalah doa satu jam terakhir di hari Jumat yakni setelah Ashar atau satu jam sebelum sholat Magrib.

“Silahkan berdoa kira-kira 1 jam sebelum magrib berarti kita sudah mendapatkan keutamaan doa mustajab. Jangan sampai tertinggal,” tuturnya.

Dalam Islam, salat Jumat mempunyai keistimewaan dan keberkahan tersendiri.

Selain salat berjamaah dan mendengarkan khutbah, waktu-waktu tertentu di hari Jumat dinilai sangat bermanfaat untuk salat.

Berikut adalah waktu-waktu yang dianjurkan untuk berdoa ketika shalat Jumat

1. Waktu Antara Khutbah Pertama dan Khutbah Kedua

الوَقْتُ بَيْنَ اْلخُطْبَةِ اْلأُولَى وَ اْلخُطْبَةِ اْلثَّانِيَةِ

Al-waktu bayna al-khutbah al-ula wa al-khutbah al-thaniyah

Artinya: Waktu antara khutbah pertama dan khutbah kedua.

Waktu antara khutbah pertama dan khutbah kedua adalah saat yang mustajab untuk berdoa.

Pada waktu ini, suasana hening dan khusyuk, dan Allah SWT sangat dekat dengan hamba-Nya yang berdoa.

2. Sujud di Antara Dua Khutbah

السُّجُودُ بَيْنَ خُطْبَتَيِ اْلجُمُعَةِ

As-sujud bayna khutbataini al-jumu’ah

Artinya: Sujud di antara dua khutbah.

Saat imam selesai memberikan khutbah pertama dan duduk sejenak sebelum khutbah kedua, ada beberapa pendapat yang memperbolehkan untuk sujud singkat.

Pada saat ini, kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh dalam sujud dan memohon kepada Allah SWT.

3. Setelah Shalat Jumat Selesai:

بَعْدَ اْلفَرَائِضِ

Ba’da al-fara’idh

Setelah melaksanakan salat Jumat berjamaah, waktu setelah salat berakhir juga merupakan waktu yang bermanfaat untuk salat.

Kita bisa berdoa untuk kebaikan kita sendiri, keluarga kita, umat Islam, dan seluruh umat manusia.

Waktu yang paling mujarab (boleh) shalat Jumat adalah setelah imam selesai berkhotbah (khutbah) dan sebelum menunaikan shalat Jumat.

Waktu ini disebut “waktu antara khotbah dan doa.” Saat ini suasana hening dan khusyuk, Allah SWT sangat dekat dengan hamba salatnya.

Selama ini, umat Islam dianjurkan untuk khusyuk berdoa, mengingat dan mengenang Allah SWT.

Kita bisa berdoa untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, umat Islam dan umat manusia pada umumnya.

Doa bisa berupa permohonan ampun, bimbingan, perlindungan, kesembuhan, keberkahan atau apapun yang dikehendaki untuk kebaikan.

Penting untuk diketahui bahwa shalat di antara khutbah dan shalat Jumat bukan berarti shalat di waktu lain tidak akan dikabulkan oleh Allah.

Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya dalam setiap waktu.

Namun, memanfaatkan waktu khusus ini di hari Jumat adalah salah satu kesempatan yang baik untuk menghadapkan diri kepada Allah dan memohon berkah serta rahmat-Nya.

Selain itu, selama shalat Jumat itu sendiri, ketika kita berbaris bersama-sama dan berdoa bersama dalam sujud dan tahiyat akhir, itu juga merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Pada saat itu, kita dapat mengungkapkan doa-doa pribadi dan berdoa untuk kebaikan umat Muslim secara kolektif.

Penting untuk diingat bahwa dalam berdoa, kita harus melakukannya dengan hati yang ikhlas, penuh keyakinan, dan berusaha hidup sesuai dengan ajaran agama.

Selain itu, kita juga harus bersabar dan percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa kita pada waktu yang paling tepat menurut kebijaksanaan-Nya.

Semoga Allah SWT menerima doa-doa kita dan memberikan berkah-Nya kepada kita semua.

1. NIAT SHOLAT JUM’AT

اُصَلِّيْ فَرْضَ الجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً مَاْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

Ushollii fardlol jum’ati rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an ma-muuman lillaahi ta’aala.

Artinya :

Aku niat melakukan shalat jum’at 2 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, menjadi mamum, karena Allah ta’ala.

Bacaan niat sholat jum’at diatas adalah khusus untuk yang menjadi makmum.

Adapun jika Anda menjadi imam, maka bacaan ma’muuman diganti menjadi imaaman.

Lafadz niat sholat jum’at sebagai imam selengkapnya adalah sebagai berikut:

اُصَلِّيْ فَرْضَ الجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً اِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli fardlol jum’ati rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillaahi ta’aala.

Artinya :

Aku niat melakukan shalat jum’at 2 rakaat, sambil menghadap qiblat, saat ini, menjadi imam, karena Allah ta’ala.

2. SYARAT WAJIB SHOLAT JUMAT

1. Beragama Islam

2. Balligh atau dewasa

3. Berakal atau tidak gila

4. Laki-laki (bagi wanita tidak diwajibkan melaksanakan sholat jumat)

5. Merdeka (bukan budak)

6. Sehat (orang yang sakit tidak diwajibkan)

7. Menetap (bermukim), musafir (mereka yang sedang menempuh perjalanan yang jauh) tidak diwajibkan

8. “Bagi musafir tidak wajib shalat Jumat.” (HR. Daruquthni)

3. SUNNAH-SUNNAH SEBELUM SHOLAT JUMAT

1. Disunahkan untuk mandi

2. Memotong kuku serta mencukur kumis

3. Memakai pakaian yang rapi serta bersih, pakaian diutamakan yang berwarna putih)

4. Memakai wangi-wangian

5. Masuk masjid dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu serta membaca do’a masuk masjid.

6. Melaksanakan sholat sunah tahiyatul masjid

7. Ber’itiqaf serta sambil membaca al qur’an, dzikir, serta bersholawat.

8. Ketika khatib telah naik ke atas mimbar hendaknya para jamaah sholat jumat menghentikan dzikir serta bacaan lainnya yang kemudian mendengarkan khotbah jumat.

Tata Cara Sholat Jumat

Dilansir dari bersamadakwah, sholat Jumat disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah, tidak sah jika sendirian.

Adapun jumlah minimal jamaahnya, para ulama berbeda pendapat.

Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari’ bahwa ada 15 pendapat para ulama.

Pendapat paling kuat menurut Sayyid Sabiq adalah, ia telah sah meskipun hanya diikuti dua orang atau lebih.

Tempatnya boleh di kota maupun di desa, di dalam bangunan maupun di lapangan, namun yang paling utama adalah di masjid.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, menurut mazhab Hanafi, dilaksanakan di masjid besar kota.

Menurut mazhab Maliki, masjid yang berada di tengah-tengah penduduk, tidak boleh di kemah/tenda yang menunjukkan mereka adalah musafir.

Demikian pula mazhab Syafi’i, di masjid baik kota maupun perkampungan, bukan perkemahan/tenda.

Sedangkan menurut mazhab Hambali, di masjid atau bangunan perkampungan yang minimal dihuni 40 orang.

Sebelum Sholat Jumat didahului dengan Khutbah Jumat yang terdiri dari dua khutbah.

Khatib naik mimbar lalu mengucap salam, setelah itu ia duduk, muazin mengumandangkan azan.

Lalu khatib menyampaikan khutbah pertama dengan memuji Allah, bershalawat, syahadat dan pesan taqwa.

Selesai khutbah pertama, khatib duduk sejenak. Setelah itu, khatib kembali berdiri untuk menyampaikan khutbah kedua dan mengakhirinya dengan doa.

Sholat Jumat dilaksanakan dua rakaat dengan dipimpin oleh imam. Secara ringkas, tata caranya adalah sebagai berikut:

1. Niat

2. Takbiratul ihram, diikuti dengan doa iftitah

3. Membaca surat Al Fatihah

4. Membaca surat dari Al Qur’an, disunnahkan Al A’la

5. Ruku’ dengan tuma’ninah

6. I’tidal dengan tuma’ninah

7. Sujud dengan tuma’ninah

8. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

9. Sujud kedua dengan tuma’ninah

10. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

11. Membaca surat Al Fatihah

12. Membaca surat dari Al Qur’an, disunnahkan Al Ghatsiyah

13. Ruku’ dengan tuma’ninah

14. I’tidal dengan tuma’ninah

15. Sujud dengan tuma’ninah

16. Duduk di antara dua sujud dengan tuma’ninah

17. Sujud kedua dengan tuma’ninah

18. Tahiyat akhir dengan tuma’ninah

19. Salam

Artikel ini sebelum nya telah terbit di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *